Review Buku “Apapun Partainya, Korupsi Hobinya”

index

BOOK REVIEW

Judul Buku        : “Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya”

Pengarang         : A.Yusrianto Elga

Penerbit             : IRCiSoD

Kota                  : Yogyakarta

Tahun                : 2013

Halaman            : 176

 

Nama              : Lina Andriani

NIM                : 1401120996

Prodi               : Pendidikan Bahasa InggrisPendahuluan

          Menyaksikan partai politik dan anggotanya yang seolah mempertajam mata rantai isu korupsi tanah air tentu bukanlah hal yang awam lagi bagi rakyat tanah air. Menurut survei Transparansi Internasional edisi 2011, dari 182 negara, Indonesia berada di peringkat ke-100 negara paling bersih dari korupsi.[1] Dilansir Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2014 yang dirilis Transparansi Internasional pada Rabu, 3 Desember 2014, Indonesia menduduki peringkat 107 dari 175 negara.[2] Padahal dari 235 juta penduduk beragama, umat islamnya mencapai 88,6 %.[3] Hal ini tentulah menjadi pukulan telak bagi umat islam dalam negeri, melihat kenyataan yang sebenarnya.

        Berangkat dari apa yang sebenarnya terjadi di negara Indonesia ini, dianggap patut menjadi referensi bacaan. Terutama tak lama lagi bangsa ini akan menikmati kembali pesta demokrasi, yang katanya nantinya akan menjadi penyampai aspirasi rakyat.

 

Isi

       A.Yusrianto Elga merupakan seorang alumnus Pidana dan Politik Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Beliau lahir di Sumenep, 4 Mei 1987. Pada tahun 2008 beliau bergabung dengan Indonesia buku (i:boekoe) Jakarta, menggarap proyek akbar bertajuk ‘Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia: 1908-2008’. Kini selain menjadi penulis, beliau juga menjadi editor freelance di beberapa penerbit di Yogyakarta.

      Buku “Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya” karya A.Yesrianto Elga ini terdiri dari lima bab. Dimana setiap bab terdiri lagi dari beberapa sub-bab. Pada bab pertama buku ini berisi pendahuluan yang dibuka dengan kutipan dari salah satu filsuf besar Fredrich Nietzche “Naluri manusia yang tidak pernah padam adalah kehendaknya untuk berkuasa”.[4] Ditliskan pula data yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi selama periode 2004-2011, tercatat sebanyak 1.408 kasus korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 39,3 triliun.[5]

        Pada bab ke-dua yang terdiri dari enam sub-bab antara lain: 1) Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya, 2) Antara “Pilar Demokrasi” dan “Pilar Korupsi”, 3) Soal ideology nomor sekian, yang penting uang!, 4) Katakan “Ya” pada korupsi, 5) Partai islam dan koruptor yang religious, 6) Partai islam, yang tidak amanah?.[6]  Pada bagian “Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya” penulis mengatakan bahwa partai politik itu surga bagi para koruptor. Dalam banyak survei yang dilakukan, keberadaan parpol tidak jauh berbeda dengan parlemen atau lembaga kepolisian yang masih terjangkit virus bernama korupsi.[7] Lalu pada bagian kedua dijelaskan mengenai bahwa kita, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa parpol mencederai tugas luhur yang disandangnya, yakni bagaimana membawa bangsa ini keluar dari krisis multidimensi serta menjadi pelopor tegaknya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.[8] Selanjutnya pada bagian ketiga dibahas, ketika uang menjadi orientasi politik, maka jangan heran jika fenomena korupsi tumbuh subur.[9] Di bagian keempat penulis berbicara mengenai keadaan rakyat yang semakin pesimis dengan munculnya partai-partai politik jika kenyataannya yang terjadi tidak jauh berbeda, atau bahkan lebih parah disbanding dengan era Orde Baru dulu.[10] Tertangkapnya Abdul Hadi Jamal dalam posisinya sebagai anggota Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat saat itu semakin menambah buram perjalanan bangsa ini menuju perubahan dibahas pada bagian ke lima.[11] Lalu yang terakhir pada bab kedua, “Namanya juga partai politik, apapun asasnya, tetap saja tidak amanah.” Begitulah pemikiran penulis jika menengok ekspresi masyarakat masa kini.[12]

       Beralih ke bab tiga dengan tajuk utama “Political Marchandiser” yang dikembangkan menjadi lima topic bahasan, yaitu: 1) Aktor-aktor busuk, 2) Logika untung-rugi dalam bisnis politik, 3) Peran para “Broker Politik”, 4) Aset Negara dan transaksi illegal, dan 5) mengais rezeki lewat partai politik.[13] Yang pertama dibahas adalah aktor-aktor busuk, “Indonesia telah menjadi suatu messy state, Negara amburadul” ujar Thomas Friedman, wartawan The New York Times.[14] Jika diibaratkan penguasa negeri ini meminjam bahasanya Al-Baqillani, seorang politikus Sunni yang cukup disegani tak ubahnya seorang majikan yang memosisikan rakyat sebagai budak.[15] Pada bagian selanjutnya mengenai logika untung rugi dalam bisnis politik. Barangkali kita masih ingat dengan fenomena caleg bunuh diri. Karena nasib mujur tidak berpihak pada mereka, alias gagal terpilih menjadi caleg, lantas mereka memilih mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang sangat tragis.[16] Negara yang didominasi oleh bandit-bandit demokrasi, pasti yang dilahirkan tidal lain adalah praktik  keculasan. Logika “untung-rugi menjadi mesin penggerak mereka, semacam ideologi gelap yang mendorong nilai-nilai kemanusiaan.[17] Kemudian beralih pada bagian peran para “Broker Politik”, seperti tulisan Pahmi. Sy, S.Ag, M.Si “Peran Perantara (broker) politik pada masa Orda Baru hanya terlihat dalam empat hal, yaitu: 1) Di dalam masyarakat luas, 2) Peran broker di dalam parlemen, 3) Peran broker dengan “Parlemen Jalanan” dalam proses pembangunan, dan 4) Peran broker dalam memperhubungkan penguasa dan penguasa.[18] Kini, setelah kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya, broker-broker politik semakin menancapkan taringnya di haadapan penguasa dan pengusaha.[19] Kemudian pada bagian berikutnya mengenai aset Negara dan transaksi ilegal. Di tangan para bandit-bandit demokrasi, kekayaan kita ibarat barang dagangan yang setiap kali dibutuhkan dan didesak oleh kapitalis akan dijual dengan harga yang murah.[20] Lalu pada bagian akhir penulis meyakini, jika bukan karena orientasi pragmatis, yaitu keuntungan materi, tidak mungkin mereka mengeluarkan dana yang begitu banyak. Politik bagi merka adalah lahan busnis yangn sangat menguntungkan.[21]

        Pada bab empat, yang bertajuk utama “Ini dia kader-kader parpol yang terjerat kasus korupsi. Disin penulis mengklasifikasikan menjadi tujuh bagian, antara lain: 1) Partai Demokrat, 2) Partai Golkar, 3) PDI Perjuangan, 4) PPP, 5) PAN, 6) PKB, 7) Partai-Partai lain.[22]  Dari kubu Partai Demokrat ada Anas Urbaningrum (Ketum Partai Demokrat), Andi Alfian Malaranggeng (Mantan Menpora), Nazaruddin (Mantan Anggota DPR RI, 2009-2014), Angelina Sondakh ( Anggota DPR Komisi X, 2009-2014), Jacob Purnowo (Mantan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi), Muhammad Salim (Bupati Palembang, 2005-2010), Sumartono (Anggota DPRD Semarang), Raja Thamsir Rachman (Mantan Bupati Indragiri Hulu), Wisnu Wardhana (Ketua DPRD Surabaya), Agusrin Najamudin (Gubernur Bengkulu), Sukawi Sutarip (Walikota Semarang, 2000-2010), As’ad Syam (Anggota DPR, 2009-2014), Yusran Aspar (Anggota DPR, 2009-2014), Sarjan Tahir (Anggota DPR, 2004-2009), Ismunarso (Bupati Situbondo, 2005-2010), Yusak Yaluwo (Bupati Boven Digoel, Papua, 2005-2009), Amrun Daulay (Anggota Komisi III DPR RI, 2009-2014), dan Djufri (Mantan anggota DPR RI, 2009-2014).[23] Selanjutnya, dari Partai Golkar ada Saleh Djasit (Mantan anggota DPR RI Komisi VII, 2004-2009), Azwar Chesputra (Mantan anggota DPR RI Komisi IV, 2004-2009), Hengky  Baramuli (Mantan anggota DPR RI, 1999-2004), Rusli Zainal (Gubernur Riau, 2008-2013), Hamka Yandhu, Amran Batalipu (Mantan Bupati Kab. Buol, Sulteng), Zulkarnaen Djabar (Anggota Banggar, Anggota Komisi VII), Yohanes Eluay (Ketua DPRD Jayapura), Iqbal Wibisono (Mantan anggota DPRD Jateng) dan, Andri Irsan Idris Galigo (Anggota DPRD Bone).[24] Menyusul dari kubu PDI Perjuangan menghadirkan Agus Condro (Mantan anggota Komisi IX DPR RI, 1999-2004), Izederik Emir Moeis (Anggota DPR, 1999-2004), Pltak Sitoris (Mantan anggota Komisi IX DPR RI, 1999-2004), Panda Nababan (Mantan anggota DPR RI, 2009-2014), Murdoko (Ketua DPRD Jateng),  Aries Marcorius Narang (Ketua DPRD Palangka Raya) dan, Sukarni Joyo (Anggota DPRD Kutai Timur).[25] Kemudian menyusul dari PPP yaitu:  Sofyan Usman (Mantan anggota DPR RI, 1999-2004), Al Amin Nasution (Mantan anggota Komisi III DPR RI, 2004-2009) dan, Endin Ahmad Jalaludin Soefihara (Mantan anggota komisi keuangan DPR).[26] Disusul PAN dengan Wa Ode Nurhayati (Mantan anggota Badan Anggaran DPR RI, 2004-2009), Noor Adenan Razak (Mantan anggota DPR RI Komisis VIII, 1999-2004), Abdul Hadi Jamal (Mantan anggota Komisi Perhubungan DPR, 2004-2009), Agung Purno Ssarjono (Anggota DPRD Semarang), Taufan Andoso Yakin (Wakil Ketua DPRD Riau) dan, Riza Kurniawan (Wakil Ketua DPRD Jateng).[27] Ada pula dari kader PKB yaitu: Yusuf Erwin Faisal (Mantan Ketua Komisi IV DPR RI, 2004-2009), M. Dunir (anggota DPRD Riau) dan, Zulkifli Shomad (Mantan Ketua DPRD Jambi).[28] Dan yang terakhir adalah bebarapa kader partai yang meramaikan dunia perkorupsian tanah air yaitu; Luthfi Hasan Ishaq (Mantan Presiden PKS), Bulyan Royan (Mantan anggota DPR RI Komisi V, 2004-2009) dan, Theddy Tengko (Bupati Kep.Aru, 2010-2015).[29]

       Terakhir adalah bab lima yang merupakan penutup dari buku “Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya). Penulis berpendapat bahwa kini, kita hidup ditengah dinamika politik yang tidak sehat. Partai-partai politik bermunculan dengan baju atau symbol yang berbeda, dengan ideology-ideologi yang tidak bisa ditekuk menjadi tunggal.[30] Demikianlah kenyataan yang tengah kita hadapi saat ini.

 

Pembahasan

         Membahas mengenai partai islam yang seperti kehilangan jati diri keislaman dalam tubuh partai seakan menjadikan islam di Indonesia hanya topeng. Namun penulis melupakan bahwa tidak semua kader partai berkelakuan buruk. Sebagai contoh besar, Joko Widodo adalah salah satu anggota partai PDI Perjuangan saat itu menjadi nominasi 25 wali kota terbaik dunia versi The City Mayor’s Foundation dan beberapa penghargaan lainnya seperti; 10 tokoh di tahun 2008 oleh majalah Tempo, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Award, Bung Hatta Anticorruption Award (2010), Charta Politica Award (2011) serta wali kota teladan dari Kementrian Dalam Negeri.[31]

      Dan tak dapat sepenuhnya kesalahan menjadi tanggungan partai jika dilihat beragamnya kepribadian dan agama setiap orang. Sehingga muncul beberapa pertanyaan reflektif yang diajukan. Pertama, apakah partai islam akan tetap eksklusif dengan asasnya sehingga akan bertabrakan dengan banyak aspirasi warga Negara Indonesia?. Kedua, partai islam akan berhadapan dengan dua organisasi Islam mainstream Indonesia, Muhamadiyah dan NU. Ketiga, partai Islam akan semakin kehilangan basis legistimasi ketika tokoh-tokoh Islam belakangan semakin banyak yang terjerat kasus-kasus tidak beradab. Keempat, dengan munculnya organisasi Islam non mainstram.[32] Sehingga sepertinya kurang pantas bila menyebut partai Islam adalah partai yang tidak amanah.

Tapi hal yang demikian dapat dijadikan pembelajaran , seperti firman Allah SWT:

قُلۡ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلُۚ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ٤٢

Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”

       Jadi, apabila ditelaah lebih mendalam lagi sebenarnya bangsa ini mempunyai lima penyakit yang menyebabkan keterpurukan kondisi saat ini yaitu: 1) Mereka adalah pengusaha-pengusaha serakah, para pemuja materi 2) Koruptor penjual keringat rakyat dan masa depan bangsa 3)  Agen-agen pengkihanat 4) Kelompok anti moral dan, 5) kaum agamawan yang mendiamkan kenyataan buruk di masyarakat.[33] Dan pada halaman 60 penulis menyebutkan bahwa ada tiga broker yang muncul pada era Orde Baru, namun dalam pembahasannya penulis malah menulis empat perantara.

 

Penutup

        Buku yang mempunyai sampaul yang sangat menarik menjadi daya tarik tersendiri yang dapat menarik perhatian pembaca. Desain yang sangat sederhana, beberapa kutipan sengaja dibuat lebih besar dalam sebuah kolom untuk mempertajam ide pokok setiap tema menjadikan setiap hal sangat penting diperhatikan. Judul buku yang sangat gahar menurut saya, membuat pembaca tertantang menggali seberapa luas pemahaman tentang korupsi dan partai politik. Buku yang sangat cocok menjadi bahan bacaan dan mungkin menjadi bahan pertimbangan menjelang pemilu mendatang, terutama dengan bentuk buku yang tidak terlalu tebal membuatnya menjadi nyaman dibawa.

       Namun sayangnya buku ini hanya membahas beberapa tokoh saja. Akan lebih baik jika penulis menyebutkan kasus-kasus kecil juga. Dan juga setelah membaca buku ini, sedikit banyak pembaca akan terbawa dalam pemikiran sang penulis. Padahal dalam kenyataannya tidak semua anggota partai selalu mempunyai reka catatan hitam. Jika saja penulis memberikan sedikit angin segar pencapaian politik Indonesia, mungkin saja hal tersebut dapat membuka mata pembaca lebih luas lagi.

 

Daftar Pustaka

Elga A.Yusrianto, Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya, Yogyakarta: IRCiSoD, 2013

Harian Kompas edisi Rabu 3 Desember 2014 “Indeks Korupsi Dunia: Denmark Terbersih, Indonesia ke-107”

Indradie Andri, Rakyat Memantau Ibukota Rakyat Memantau Jokowi Basuk, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2013

Mulya adhitya, Indonesia Jungkir-Balik (Bagian 2), Jakarta: Noura Books, 2012

Qodir Zuly, Sosiologi Politik Islam Kontestasi Islam Politik dan Demokrasi di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012

AM Waskito, Republik Bohong: Hikayat Bangsa Yang Senang Ditipu Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2011

 

 

 

 

[1] Adhitya Mulya, Indonesia Jungkir-Balik (Bagian 2), (Jakarta: Noura Books, 2012), hal. 36

[2] Harian Kompas edisi Rabu 3 Desember 2014 “Indeks Korupsi Dunia: Denmark Terbersih, Indonesia ke-107”

[3] Zuly Qodir, Sosiologi Politik Islam: Kontestasi Islam Politik dan Demokrasi di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2012),  hal.5

[4] A.Yusrianto Elga, Apa Pun Partainya, Korupsi Hobinya, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2013), hal.7

[5] Ibid., hal 8

[6] Ibid, hal. 4

[7] Ibid,  hal 16

[8] Ibid., hal 24

[9] Ibid., hal 27

[10] Ibid., hal. 32

[11] Ibid,. Hal 36

[12] Ibid., hal 46

[13]  Ibid., hal.6

[14] Ibid., Hal 49

[15] Ibid., Hal 51

[16] Ibid., Hal 54

[17] Ibid., Hal 58

[18] Ibid., Hal

[19] Ibid., hal 63

[20] Ibid., Hal 69

[21] Ibid., Hal 74

[22] Ibid., Hal 6

[23] Ibid., Hal 78-112

[24] Ibid., Hal 112-129

[25] Ibid., Hal 129-140

[26] Ibid., Hal 140-147

[27] Ibid., Hal 147-158

[28] Ibid., Hal 158-160

[29] Ibid., Hal 160-164

[30] Ibid., Hal 166

[31] Andri Indradie, Rakyat Memantau Ibukota Rakyat Memantau Jokowi Basuki (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2013) hal 132

[32] Zuly Qodir, Sosiologi Politik Islam Kontestasi Islam Politik dan Demokrasi di Indonesia (Yogyakarta: pustaka Pelajar, 2012) Hal. 280-282

[33] AM Waskito, Republik Bohong: Hikayat Bangsa Yang Senang Ditipu (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2011) Hal 245-248

Advertisements

Mandi Safar (Final Product)

Name      :  Lina Andriani

SRN         :  1401120996

Subject   :  Writing II/C

Lecturer :  M. Zaini Miftah, M.Pd

         Sampit city has a traditional culture whose everyone swim on Mentaya’s river and it was called ‘Mandi Safar’. It was on Arba Musta’mir to reminded about the death of Husain bin Ali bin Abi Thalib who led his army to leave Makkah to Kufah. In general, it was a symbol of unity between the government and the society. Everyone who join the event have to wearing the sawang’s leaf on the head or waist it to protect them from the bad things. There are 41 kinds of traditional cake like cucur, apam, wajik, etc., for everyone after the prayer at the end of the activity. The tradition became very popular because not only the people of the region but the government, tourist, or everyone can join with this one. Regardless the place of the event do, Mandi Safar usually crowded with visitors enthusiastic.

Sampit : One of the city in Central Kalimantan

Mentaya’s River : The biggest and largest river in Sampit

Safar : The second month in Hijriyah calendar

Arba Musta’mir : The last of Wednesday on Safar’s Month

Husain bin Ali bin Abi Thalib : The grandchild of Muhammad

Makkah : One of the city in Saudi Arabia

Kufah : One of the city in Iraq

Sawang’s leaf : The green leaf with red line

crowded : full of

mandi-safar

Mandi Safar (second draft)

Name      :  Lina Andriani

SRN         :  1401120996

Subject   :  Writing II/C

Lecturer :  M. Zaini Miftah, M.Pd

         Sampit city has a traditional culture whose everyone swim on Mentaya’s river and it was called ‘Mandi Safar. Not only the society, but the government will join with this one. It was on Arba Musta’mir to reminded about the death of Husain bin Ali bin Abi Thalib who led his army to leave Makkah to Kufah. In general, it was a symbol of unity between the government and the society. Everyone who join the event have to wearing the sawang’s leaf on they head or waist it to protect them from the bad things. There are 41 kinds of traditional cake like cucur, apam, wajik, etc., for everyone after the prayer at the end of the activity. Because the popularity of this tradition, Mandi Safar was an amazing Sampit culture ever.

Sampit : One of the city in Central Kalimantan

Mentaya’s River : The biggest and largest river in Sampit

Safar : The second month in Hijriyah calendar

Arba Musta’mir : The last of Wednesday on Safar’s Month

Husain bin Ali bin Abi Thalib : The grandchild of Muhammad

Makkah : One of the city in Saudi Arabia

Kufah : One of the city in Iraq

Sawang’s leaf : The green leaf with red line

mandi-safar

Mandi Safar (1st draft)

Name      :  Lina Andriani

SRN         :  1401120996

Subject   :  Writing II/C

Lecturer :  M. Zaini Miftah, M.Pd

         Sampit city have a traditional culture who everyone swim on Mentaya’s river and it was called ‘Mandi Safar’. Not only the society but the government will join with this one. It was on Arba Musta’mir to reminded about the death of Husain bin Ali bin Abi Thalib who led his army to leave Makkah to Kufah. In general, it was a symbol of unity between the government and the society. Everyone who join the event have to wearing the sawang’s leaf on head or waist to protect them from the bad things. There are 41 kind of traditional cake like cucur, apam, wajik, etc., for everyone after the prayer at the end of the activity. Because the popularity of this tradition, Mandi Safar was an amazing Sampit culture ever.

Sampit : One of the city in Central Kalimantan

Mentaya’s River : The biggest and largest river in Sampit

Safar : The second month in Hijriyah calendar

Arba Musta’mir : The last of Wednesday on Safar’s Month

Husain bin Ali bin Abi Thalib : The grandchild of Muhammad

Makkah : One of the city in Saudi Arabia

Kufah : One of the city in Iraq

Sawang’s leaf : The green leaf with red line

mandi-safar

Noni’s Leaf Botok (Revise)

Name      :  Lina Andriani

SRN         :  1401120996

Subject   :  Writing II/C

Lecturer :  M. Zaini Miftah, M.Pd

          Noni’s leaf botok was a delicious and unique food were made in Dayak, Central Kalimantan. The food has the same ingredients as botok that everyone knows. It just added the leaf of noni. Some people sliced the leaf and cooked it with the botok, but the other wraped it up the botok with the leaf. And sometimes they added baung fish for more tasted. The food not very popular yet, because many people thought the tasted of the food was horrible. They don’t know that the leaf had very high vitamin, mineral, protein, healthy, and delicious. However, this was a great food and everyone have to taste it.

Noni: White fruit with brown freckle, or Mengkudu in Indonesian

Botok: Food that made from coconut and vegetable

Sliced: Cut

Wraped it up: Packaged

Baung Fish: Lele fish

Horrible: Not Delicious

Botok-daun-Mengkudu-Khas-Dayak1

Noni’s Leaf Botok (First Draft)

Name      :  Lina Andriani

SRN         :  1401120996

Subject   :  Writing II/C

Lecturer :  M. Zaini Miftah, M.Pd

Noni’s leaf botok was a delicious and unique food were made in Dayak, Central Kalimantan. The food has the same ingredients as botok that everyone knows. It just added the leaf of noni. Some people sliced the leaf and cooked it with the botok, but the other wraped it up the botok with the leaf. And sometimes they added baung fish for more tasted. The food not very popular yet, because many people thought the tasted of the food was horrible. They don’t know that the leaf had very high vitamin, mineral, protein, healthy, and delicious. However, this was a great food and everyone have to taste it.

Noni: White fruit with brown freckle, or Mengkudu in Indonesian

Botok: Food that made from coconut and vegetable

Sliced: Cut

Wraped it up: Package

Baung Fish: Lele fish

Horrible: Not Delicious

Botok-daun-Mengkudu-Khas-Dayak1

 

Sampit

One of the best cities in Central Borneo is Sampit city. According to reported data as of August 2009, the estimated population of Sampit is 66,053. The average elevation of the town is 25 metres (82 ft). Sampit lies in southern-mid Borneo on the banks of the Sampit’s river also called the “Mentaya River”. Sampit also called the Mentaya City.

2012081529

The most of the best place to visit in Sampit, are:

  1. Jelawat Statue

Hoven’s carp also known as the mad barb, jelawat fish or sultan fish, is a species of fish in the barb family. This is a new mascot of Sampit.

Sampit town icon was built on the banks of Mentaya, as well as in Singapore. So from here we hope will open different types of small business opportunities to help improve the welfare of the community,” said Supian.

img_20150221_114930

2. Islamic Center

In addition, the arrangement of Park City, the construction of an Sampit icon of the mascot jelawat statue, modern market in the former location Mentaya Theatre, as well as the construction of a roundabout arrangement Islamic Center” in Sudirman road.

“Beside the function as islamic center activities, the place will be a religious tour object at this town. In addition, The Islamic Center should be our belief motivate” Said Supian (9/5)

alifCTL_20130214215046_IMG_01gfdht78_zpsef4f35fb

3. City Park

Government of Kotawaringin East, Central Kalimantan, continue to make improvements to make becoming a tourist town of Sampit in 2015. The arrangement of city park made a new atmosphere for sampit image. It has some public facilities that better than before like the new monument, new stage performance, paving block and etc.